Mengenal Pembagian kelas isolasi

Nameplate Sample


Di namplate motor, dinamo, kadang kita melihat Class insulation, dengan kode kode tertentu. Misalnya INS CL . F, atau kode lainnya, seperti pada nameplate gambar di atas.


Bahan konduktor yang banyak dipakai adalah tembaga dan juga aluminium. Pada saat transformator bekerja, kerugian akibat tahanan pada penghantar merupakan kerugian yang cukup besar. 


Bahan penyekat listrik atau Bahan isolasi untuk kumparan ada bermacam-macam dan juga dengan kemampuan menahan suhu yang berbeda-beda sesuai dengan kelas-kelasnya. Bahan isolasi ini dibagi atas beberapa kelas berdasarkan suhu kerja maksimum.


Pembagian kelas bahan penyekat atau bahan isolasi menurut IEC (International Electrotechnical Commission) adalah seperti ditunjukkan pada tabel dibawah ini.:


Tabel Pembagian kelas bahan penyekat/bahan isolasi

Suhu maksimum di ambil berdasarkan umur isolasi 20 tahun. Pengaruh skin effek atau eddy current (arus Eddy) perlu diperhatikan untuk penghantar dengan dimensi yang besar, sehingga sebaiknya konduktor ini dibagi menjadi bagian yang masing-masing bagian tersebut di isolasi sehingga rugi-rugi akibat arus Eddy ini dapat di kurangi.


Berikut uraian mengenai bahan isolasi sesuai kelasnya :

  • Kelas Y

Sesuai tabel memiliki suhu kerja maksimum 90 C, dapat digolongkan dalam kelas Y adalah bahan katun, sutera alam wol sintetis, rayon, serat poliamid, kertas, prespan, kayu, poliakrit, polietilin, poli-inil, karet.

  • Kelas A

Sesuai tabel memiliki suhu kerja maksimum 105 C, dapat digolongkan dalam kelas A adalah bahan berserat dari kelas Y yang telah dicelup dalam vernis, aspal, minyak trafo, email yang dicampur vernis dan poliamid. 

  • Kelas E

Sesuai tabel memiliki suhu kerja maksimum 120 C, dapat digolongkan dalam kelas E adalah penyekat kawat email yang memakai bahan pengikat poli-inil formal, poli urethan dan damar epoksi dan bahan pengikat lain semacam itu dengan bahan pengisi selulose, pertinaks dan tekstolit, film triasetat, filem serat polietilin tereftalat.

  • Kelas B

Sesuai tabel memiliki suhu kerja maksimum 130 C, dapat digolongkan dalam kelas B adalah bahan nonorganik (mika, gelas, fiber, asbes) dicelup atau direkat menjadi satu dengan pernis atau konpon, bitumen, sirlak, bakelit dan sebagainya.

  • Kelas F

Sesuai tabel memiliki suhu kerja maksimum 155 C, dapat digolongkan dalam kelas F adalah bahan bukan organik dicelup dan direkat menjadi satu dengan epoksi, poliurethan, atau vernis yang tahan panas tinggi.

  • Kelas H

Sesuai tabel memiliki suhu kerja maksimum 180 C, dapat digolongkan dalam kelas H adalah semua bahan komposisi dengan bahan dasar mika, asbes dan gelas fiber yang dicelup dalam silikon tanpa campuran bahan berserat (kertas, katun, dan sebagainya). Termasuk juga karet silikon dan email kawat poliamid murni.

  • Kelas C

Sesuai tabel memiliki suhu kerja maksimum > 180 C, dapat digolongkan dalam kelas C adalah bahan anorganik yang tidak dicelup dan tidak diikat dengan subtansi organik, misalnya mika, mikanit yang tahan panas (menggunakan bahan pengikat anorganik), mikaleks, gelas, dan bahan keramik. Hanya satu bahan organik saja yang termasuk kelas C yaitu polietra flouroetilin (teflon).

 

Kenaikan Suhu bahan isolasi

IEC 60085 ‘Electrical insulation - Thermal evaluation and designation ’ terdapat pembagian kelas bahan isolasi, dan pemilihan bahan yang tepat di sesuaikan dengan kenaikan suhu terhadap suhu sekitar atau suhu ambient.

Kenaikan Suhu bahan Isolasi


Apabila dibandingkan kenaikan suhu dengan standar lain, misalnya NEMA (National Electrical Manufacturers Association), berikut perbedaannya :

Kenaikan Suhu Bahan Isolasi IEC - NEMA

Semoga Bermanfaat ..

0 komentar:

Posting Komentar

 
close